
Miskinkah Indonesia , pertanyaan ini muncul ketika saya menyaksikan malam tahun baru. sebagai contoh di komplek saya, perayaan malam tahun baru sangat meriah, hampir semua orang di komplek saya mengadakan acara barbeque party. pada saat waktu menunjukkan pukul 11.30 PM suara petasan serta kembang api tak henti-hentinya membakakar langit dan merusak kesunyian malam. suara ledakan petasan yang tak henti-henti menunjukkan betapa meriahnya perayaan tahun baru di komplek saya. Bunyi kembang api tidak berhenti sampai jam HP saya menunjukkan pukul 1 AM. sekilas memang tidak ada yang aneh dalam pesta perayaan tahun baru di komlek saya tersebut, namun betapa terkejutnya saya ketika saya bertanya kepada seorang sahabat saya yang ikut merayakan pesta kembang api, berapa harga satu kembang api, untuk ukuran kecil , seperti yang saya lihat semalam ternyata haragnya berkisara antara Rp 20.000 an sampai ratusan ribu. sedangkan yang saya lihat pada tahun baru tersebut mungkin ratusan kembang api, atau bahkan mungkin ribuan kembang api. lalu saya coba mengkalkulasi dengan luas komplek saya yang hanya berpenduduk 100 an kepala keluarga, untuk pesta kembang api sudah menghabiskan uang hampir Rp 20 juta, bayangkan hanya 120 kepala keluarga, bayangkan berapa uang yang dihabiskan oleh bangsa kita ketika malam pergantian tahun ?

sangat ironis memang ditengah keterpurukan bangsa ini , ratusanribu buruh menunggu di PHK akibat krisis global, ribuan bayi terkena penyakit busung lapar akibat tak sanggup beli susu, serta jutaan anak terpaksa dan terancam putus sekolah kita maih saja berpesta di tengah kesusahan mereka. mereka beralasan mengikuti kebudayaan asing dengan berpesta pora, lalu saya berfikir, wajar saja orang asing berpesta pora, karena mereka sudah hidup makmur dengan pendapatan perkapita yang cukup besar, sedangkan negeri kita ?
sebaiknya di momen pergantian tahun di isi oleh kegiatan - kegiatan yang baik seperti saling memberi kepada warga yang tidak mampu, dan juga berintrospeksi diri. mengapa bangsa kita yang sudah merdeka puluhan tahun masih saja hidup dalam keterpuruka moral seperti ini ? mungkin ini jawaban mengapa kita masih hidup dalam keterpurukan padahal di negeri kita serba subur, serba kaya oleh bahan tambang, mulai dari tambang emas, perak, minyak, gas, aspal dah masih banayk barang tambang lainnya namun kita masih hidup dalam keterpurukan ?
Miskinkah Indonesia ?
mari kita tanya pada diri kita sendiri!
Auf Widersehen

2 komentar:
sebuah,,hal yg amat ironis kalo gw bilang ril,,,kadang disebagian pihak mereka yg berfoya-foya kla tahun baru sering meneriakkan keadilan,,namun mereka sendiri sebgai individu yg menzinahi kata adil tersebut!!
indonesia dasarnya kaya,,namun mental yg dimiiki bangsa ni adalah mental pengemis yg hany mampu meminta tanpa ada usaha,,bener gk??
hehehe
TErima kasih atas komen nya, tapi sayang anda anonim, tapi saya ucapkan terima kasih.
Posting Komentar